PANDI Menuju Organisasi yang Transparan, Akuntabel

Jakarta, 15 Februari 2012 – Pelibatan partisipasi publik dalam pengelolaan nama domain Indonesia mulai dilakukan dengan menggelar Diskusi Umum Terbuka di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, Selasa 14 Februari kemarin. Dalam acara ini PANDI memaparkan kegiatan selama enam bulan pertama kepengurusan periode 2011-2014 dan rencana kebijakan-kebijakan baru.

Ketua umum PANDI, Andi Budimansyah, mengungkapkan, Diskusi Umum Terbuka ini merupakan langkah awal restrukturisasi PANDI di masa mendatang. “Ke depannya kami berniat memasukkan seluruh pemangku kepentingan domain internet Indonesia sebagai pengambil kebijakan nama domain dalam board of trustee”. Pemangku kepentingan yang akan masuk ke dalam board of trustee di antaranya wakil pemerintah, komunitas, praktisi, kalangan akademisi, dan pengguna domain .id.

Untuk melakukan restrukturisasi semacam itu, PANDI harus melakukan perubahan AD/ART. “Saat ini kami baru mulai merancang AD/ART baru. Akan perlu waktu beberapa lama sebelum struktur baru terbentuk,” jelas Andi. Diskusi Umum Terbuka merupakan cara tercepat untuk melibatkan partisipasi publik dalam pengambilan keputusan. “Rancangan-rancangan keputusan yang telah dibuat oleh Badan Pengurus dan Badan Pengawas PANDI kami sampaikan dalam diskusi ini. Kami menerima beberapa masukan, bahkan penolakan. Semua yang diputuskan dalam diskusi ini akan kami sahkan sebagai keputusan PANDI,” jelas Andi.

Diskusi Umum Terbuka ini diikuti sekitar 80 orang yang mewakili pemerintah, komunitas, praktisi, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), pengguna domain .id, dan pemangku kepentingan lainnya.

Diskusi Umum Terbuka kemarin menyetujui beberapa hal prinsip terkait dengan kebijakan pengelolaan nama domain .id, salah satunya rencana pemisahan registry-registrar dan persyaratan untuk menjadi registrar. “Kami harapkan dalam semester pertama tahun ini, registrar-registrar yang memenuhi syarat sudah dapat memasarkan domain-domain .id, baik yang eksisting maupun yang baru,” kata Andi.

Diskusi Umum Terbuka juga menyetujui pembuatan dua domain baru: biz.id dan my.id. Biz.id ditujukan untuk usaha kecil menengah dan mikro yang belum memenuhi syarat untuk mendapatkan domain co.id. “Domain co.id mensyaratkan legalitas sebagai perusahaan, padahal ada usaha-usaha kecil yang mungkin baru tumbuh dan belum berbentuk perusahaan. Untuk inilah akan dirilis domain biz.id” jelas Andi.

Domain my.id akan membidik pasar pengguna personal dan blogger yang selama ini memilih menggunakan domain internasional. “My.id menurut kami merupakan nama domain yang menarik dan akan banyak diminati,” ujar Andi.

Satu rancangan kebijakan yang ditolak dalam Diskusi Umum Terbuka ini adalah rencana perubahan nama domain co.id menjadi com.id. “Karena ditolak, kami tidak akan meneruskan rencana ini, kecuali ada pihak lain yang di kemudian hari mengusulkan pembukaan domain com.id ini,” jelas Andi.

Selain pembahasan tiga domain tersebut, Diskusi Umum Terbuka juga meminta PANDI mempersiapkan kemungkinan penjualan domain anything.id. “Kami perlu mengantisipasi kemungkinan ini karena ICANN Februari ini juga sudah membuka penjualan domain .anything. Namun banyak hal yang harus dipikirkan, karena itu kami akan mempersiapkan white paper yang nantinya akan diajukan kepada publik sebelum dilaksanakan,” Andi.

Indonesian
Facebook Twitter Vimeo Share to Stumble Upon More...